Jakarta, Minggu 27 September 2026 | News Satu- Indonesia menegaskan bahwa ketahanan nasional menjadi fondasi utama untuk menghadapi ketidakpastian global, menjaga stabilitas kawasan, serta memperkuat sistem multilateral yang dinilai tengah menghadapi ujian besar akibat konflik, krisis ekonomi, hingga meningkatnya rivalitas geopolitik dunia.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Sugiono, dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat.
Dalam pidatonya, Sugiono mengingatkan bahwa Indonesia dan PBB lahir dari semangat yang sama, yakni menjaga masa depan dunia dari ancaman perang dan perpecahan.
“Delapan puluh satu tahun lalu, Indonesia dan PBB lahir dengan sebuah keyakinan dan tujuan yang sama, yaitu untuk tidak menyerahkan masa depan umat manusia kepada perang dan perpecahan,” ujar Sugiono, Minggu (27/9/2026).
Menlu RI menilai dunia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari konflik berkepanjangan, ketegangan geopolitik, krisis pangan, krisis energi, hingga ancaman terhadap stabilitas ekonomi global.
Menurutnya, sistem multilateralisme yang selama ini menjadi fondasi kerja sama internasional harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat dunia.
“Perdamaian dan kemakmuran hanya dapat bertahan apabila multilateralisme mampu beradaptasi, merespons, dan memberikan hasil nyata,” katanya.
Sugiono menegaskan bahwa penguatan sistem multilateral harus dimulai dari ketahanan masing-masing negara.
Dalam forum internasional tersebut, Indonesia juga memaparkan sejumlah strategi nasional yang dinilai menjadi kunci dalam menghadapi berbagai guncangan global.
Beberapa di antaranya meliputi penguatan kemandirian pangan, ketahanan energi, pembangunan ekonomi yang inklusif, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan sektor kesehatan.
Selain aspek ekonomi dan sosial, Indonesia juga menempatkan persatuan nasional sebagai salah satu pilar utama ketahanan negara.
“Sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, Indonesia menempatkan persatuan dalam keberagaman, demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum sebagai bagian penting dari ketahanan nasional,” tukasnya.
Ia menegaskan bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia tetap menjadi kekuatan pemersatu bangsa dari Aceh hingga Papua dan dari Miangas hingga Rote.
Sugiono juga menyoroti peran ASEAN sebagai contoh keberhasilan kerja sama kawasan dalam menjaga stabilitas dan dialog di tengah meningkatnya kompetisi strategis global.
Menurutnya, selama hampir enam dekade ASEAN mampu mengelola perbedaan kepentingan antarnegara anggota tanpa mengorbankan stabilitas kawasan.
“Persatuan dan sentralitas ASEAN memungkinkan kawasan tetap membuka ruang dialog dan kerja sama dengan semua mitra, termasuk di tengah meningkatnya kompetisi strategis,” tandasnya.
Dalam pidatonya, Sugiono memberikan perhatian khusus terhadap konflik Palestina yang disebut sebagai salah satu ujian terbesar bagi kredibilitas sistem multilateral dunia.
Menurut Indonesia, persoalan Palestina bukan hanya konflik regional, melainkan ujian bagi kemampuan komunitas internasional dalam menegakkan prinsip-prinsip hukum internasional yang selama ini menjadi dasar berdirinya PBB.
“Palestina bukan hanya persoalan satu kawasan, tetapi ujian apakah sistem multilateral mampu menegakkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukannya,” tegas Sugiono.
Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat melalui Solusi Dua Negara sesuai hukum internasional dan berbagai kesepakatan internasional yang telah ada.
Pada kesempatan yang sama, Menlu Sugiono juga menyampaikan pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030.
Mengusung tema “Fostering Unity, Advancing Peace”, Indonesia berkomitmen memperkuat dialog internasional, membangun titik temu di tengah perbedaan, serta mendorong penyelesaian konflik melalui kerja sama yang konkret dan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia menilai tantangan global yang semakin kompleks membutuhkan kolaborasi internasional yang lebih kuat, inklusif, dan mampu menghasilkan solusi nyata bagi perdamaian dunia. (Den)






