SURABAYA, Selasa, 13 Oktober 2026 | News Satu- Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan pembangunan Jawa Timur tidak boleh berhenti pada capaian administratif maupun pertumbuhan ekonomi. Di tengah peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, ia menyoroti pentingnya memastikan setiap kebijakan benar-benar berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
Menurut Lia, yang akrab disapa Ning Lia, kemajuan daerah harus dibangun melalui kolaborasi kepemimpinan, keberlanjutan program, serta keberpihakan terhadap kebutuhan warga. Pembangunan yang humanis, kata dia, harus mampu menghubungkan berbagai potensi daerah agar manfaatnya dirasakan masyarakat secara luas.
Pandangan tersebut disampaikan Ning Lia setelah menghadiri rapat paripurna istimewa peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di Gedung DPRD Jawa Timur, Jalan Indrapura, Surabaya.
Ia menilai perjalanan pembangunan Jawa Timur merupakan hasil kerja panjang para pemimpin terdahulu yang perlu dilanjutkan dengan gagasan baru. Dalam proses tersebut, generasi muda harus memperoleh ruang lebih besar untuk terlibat melalui inovasi, kreativitas, dan kontribusi nyata.
“Semangat Hari Jadi ke-81 ini harus menjadi pijakan untuk terus bergerak maju. Apa yang sudah dibangun para pendahulu perlu kita lanjutkan dengan ide-ide baru dan kerja nyata, terutama dari generasi muda,” ujar Ning Lia, Selasa (12/10/2026).
Ning Lia mengingatkan, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya dinilai dari pencapaian individu, laporan administratif, atau program yang telah direncanakan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana kebijakan tersebut menjawab persoalan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup warga.
Menurutnya, Jawa Timur membutuhkan pendekatan pembangunan yang inklusif dengan memperhatikan beragam sektor, mulai dari ekonomi perkotaan, kehidupan sosial dan keagamaan, pertanian, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar kemajuan tidak terkonsentrasi pada wilayah atau kelompok tertentu. Setiap kebijakan perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang beragam, termasuk warga desa dan kelompok yang membutuhkan dukungan lebih besar.
Ning Lia juga mengapresiasi kolaborasi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak. Sinergi kepemimpinan keduanya dinilai menjadi salah satu unsur penting dalam menghadapi persoalan pembangunan yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
“Kita melihat bagaimana pasangan pemimpin di Jawa Timur bekerja secara kolaboratif, inklusif, dan benar-benar menyikapi berbagai persoalan masyarakat secara menyeluruh,” tandasnya.
Meski demikian, prinsip pembangunan humanis perlu diwujudkan melalui kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Perencanaan dan koordinasi pemerintahan menjadi penting, tetapi dampak nyata terhadap kehidupan warga tetap menjadi ukuran utama.
Salah satu sektor yang disoroti Ning Lia ialah ketahanan pangan. Sebagai daerah penyangga pangan nasional, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam mendukung upaya pemerintah memperkuat kemandirian pangan Indonesia.
Senator cantik ini, menilai penguatan sektor pertanian perlu terus dilakukan, termasuk melalui dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang disalurkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bantuan tersebut diharapkan membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperkuat kegiatan usaha pertanian.
Namun, penyediaan sarana produksi saja tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan petani. Keberlanjutan program dan manfaat bantuan dalam jangka panjang juga perlu menjadi perhatian agar dukungan pemerintah menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat pertanian.
Produktivitas yang meningkat perlu berjalan seiring dengan penguatan ekonomi petani. Karena itu, kebijakan pangan perlu memperhatikan kebutuhan di lapangan dan memastikan dukungan pemerintah dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan humanis, petani bukan sekadar bagian dari rantai produksi pangan, melainkan kelompok masyarakat yang perlu memperoleh manfaat dari kebijakan ketahanan pangan.
Selain pertanian, Ning Lia menyoroti penurunan angka kemiskinan ekstrem dan bertambahnya desa mandiri di Jawa Timur sebagai capaian yang perlu dipertahankan.
Menurutnya, penguatan kemandirian desa berpotensi membuka peluang ekonomi baru, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong pemerataan pembangunan hingga wilayah pelosok.
Kemandirian desa juga perlu didukung melalui pengembangan potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, warga tidak hanya menjadi penerima program pemerintah, tetapi turut berperan dalam menggerakkan ekonomi dan menentukan arah kemajuan wilayahnya.
Upaya pemerataan tersebut membutuhkan kesinambungan kebijakan serta kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor terkait perlu bergerak bersama agar kemajuan yang dicapai dapat dipertahankan dan manfaatnya menjangkau lebih banyak warga.
Bagi Ning Lia, peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan kebijakan yang berkelanjutan.
Ia berharap Jawa Timur terus berkembang menjadi daerah yang maju dan unggul tanpa meninggalkan prinsip pemerataan serta keberpihakan kepada masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor dan kepemimpinan yang humanis, menurutnya, harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan ekonomi penting, tetapi peningkatan kualitas hidup masyarakat juga harus menjadi perhatian utama.
“Pembangunan harus menyatukan potensi, membuka ruang bagi generasi muda, dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” demikian semangat yang ditekankan Ning Lia dalam momentum Hari Jadi ke-81 Jawa Timur.
Pesan tersebut menempatkan kesejahteraan warga sebagai tolok ukur penting pembangunan daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesinambungan program, dukungan terhadap sektor produktif, penguatan kemandirian desa, dan kesempatan bagi generasi muda berjalan seiring agar kemajuan Jawa Timur tidak hanya terlihat dalam capaian, tetapi juga dirasakan masyarakat.







