Senator Cantik DPD RI Lia Istifhama, Perempuan Harus Cerdas Dan Berkarakter

Surabaya, Senin 9 Maret 2026 | News Satu- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyerukan peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan publik. Seruan tersebut disampaikan dalam forum bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” yang digelar di Surabaya, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.

Dalam pemaparannya, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa. Menurutnya, kontribusi perempuan tidak hanya terbatas pada ranah domestik, tetapi juga sangat penting dalam ruang publik, termasuk dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Ia mengutip sebuah hadis yang menyebutkan bahwa perempuan merupakan tiang negara, yang menggambarkan besarnya pengaruh perempuan terhadap kualitas kehidupan sosial dan masa depan bangsa.

“Jika perempuan baik maka negara akan baik, dan jika perempuan rusak maka negara pun akan ikut rusak,” ujar Lia Istifhama, Senin (9/3/2026).

Menurut Lia, perempuan memiliki kekuatan khas berupa empati dan kemampuan membangun relasi sosial yang kuat. Karakter tersebut dinilai menjadi keunggulan dalam membangun kepemimpinan yang inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan.

Pandangan tersebut, kata dia, juga selaras dengan teori psikolog perkembangan Sabina Spielrein, yang menilai bahwa kepribadian perempuan banyak terbentuk melalui hubungan sosial dan empati terhadap orang lain.

“Empati adalah salah satu kekuatan utama perempuan dalam membangun kepemimpinan yang humanis,” katanya.

Dalam forum tersebut, Lia juga menyinggung fenomena perubahan standar kecantikan perempuan dari masa ke masa. Ia menjelaskan bahwa standar tersebut sering kali dipengaruhi oleh budaya dan tren sosial, mulai dari era Yunani Kuno, masa Renaissance di Italia, hingga era modern yang dipengaruhi media sosial dan fenomena budaya populer seperti Korean Wave.

Namun, menurutnya, perempuan tidak boleh terjebak pada standar kecantikan fisik semata.

“Perempuan tidak cukup hanya memiliki outer beauty, tetapi juga harus memiliki inner beauty berupa kecerdasan, karakter, serta kemampuan komunikasi,” tegasnya.

Ning Lia sapaan akrabnya juga mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan karena standar kecantikan tertentu. Sebaliknya, perempuan harus saling mendukung dan fokus pada pengembangan diri.

Dalam presentasinya, Lia memperkenalkan konsep kepemimpinan perempuan melalui akronim PEREMPUAN, yaitu Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, Negotiation.

Selain itu, ia juga mengangkat nilai KARTINI sebagai fondasi karakter perempuan pemimpin, yang terdiri dari Kindness, Adaptation, Respect, Toughness, Intelligence, Negotiation, Integrity. Menurut Lia, nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan kemampuan bersaing di berbagai bidang.

Lia juga menyoroti masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik meskipun jumlah pemilih perempuan cukup besar. Ia mengungkapkan bahwa pada Pemilu 2024 di Jawa Timur terdapat lebih dari 31 juta pemilih, dengan jumlah pemilih perempuan bahkan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Namun, representasi perempuan dalam jabatan politik masih belum seimbang. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk lebih aktif dalam proses kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik.

“Perempuan harus mulai mengaktualisasikan diri sebagai calon pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut,” tegasnya.

Dalam sesi dialog yang berlangsung menjelang berbuka puasa, Lia juga berbagi pengalaman tentang tantangan yang sering dihadapi perempuan dalam kepemimpinan. Menurutnya, perempuan sering berada dalam dilema antara bersikap lembut atau tegas saat memimpin.

Aktivis Perempuan NU ini menilai pemimpin perempuan harus mampu menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan agar kepemimpinan tetap dihormati tanpa menimbulkan rasa takut.

“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Kepemimpinan adalah tindakan nyata yang membuat orang mengikuti kita karena percaya, bukan karena takut,” pungkas Lia Istifhama. (Kiki)