Pamekasan, Sabtu 29 November 2025 | News Satu- Ketua Tim Penggerak Posyandu Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir. Penegasan itu disampaikan dalam kegiatan Penguatan Kelembagaan Posyandu di Kecamatan Proppo.
Arumi menekankan bahwa Posyandu kini bukan lagi sekadar tempat penimbangan balita, melainkan telah menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadikannya garda terdepan pelayanan kesehatan keluarga.
“Posyandu sekarang memiliki enam SPM. Fungsinya luas, tidak hanya menimbang balita, tetapi juga menjadi benteng pertama pencegahan stunting sejak fase pra-kehamilan,” ujar Arumi.
Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman, yang turut menghadiri agenda tersebut, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap percepatan penurunan stunting di daerahnya.
“Dinamika angka stunting berdasarkan SSGI dan SKI yang sempat naik dan turun drastis dalam beberapa tahun terakhir,” Sabtu (29/11/2025).
Data stunting Pamekasan:
– 2019: 26,1%
– 2020: 38,7%
– 2022: 8,1%
– 2023: 25,1%
– 2024: 22,3%
Namun, data Bulan Timbang 2019–2024 menunjukkan tren penurunan signifikan:
– 2019: 17,4%
– 2024: 3,28%
– Oktober 2025: 2,88%
“Ini menunjukkan upaya kita tidak sia-sia. Ada tren positif yang terus turun. Namun kerja cepat dan terukur tetap diperlukan,” tegas Kholilulrahman.
Bupati menegaskan Posyandu merupakan layanan kesehatan paling dekat dengan masyarakat.
“Di sinilah interaksi pertama pemerintah dengan keluarga. Di Posyandu kehidupan anak-anak kita dimulai,” ujarnya.
Ia juga memberi apresiasi kepada para kader Posyandu yang tanpa pamrih melakukan pendampingan kepada ibu hamil dan keluarga rentan stunting.
“Mereka bekerja dengan hati, mengedukasi, mendampingi ibu hamil, mendatangi rumah warga, meski memiliki keluarga masing-masing. Ini perjuangan luar biasa,” tutupnya. (Yudi)






