Sumenep, Kamis 18 Juni 2026 | News Satu- Masih banyaknya kasus pola pengasuhan yang berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan anak menjadi perhatian Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumenep. Melalui Seminar Parenting bertema “Healing Parenting: Mendidik Anak Tanpa Luka”, GOW mengajak para orang tua membangun pola asuh yang lebih sehat dan sadar demi menciptakan generasi yang tangguh di masa depan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sumenep, Kamis (18/6/2026), itu diikuti anggota organisasi perempuan dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap tumbuh kembang anak.
Seminar tersebut menjadi ruang edukasi bagi orang tua untuk memahami bahwa pola pengasuhan tidak hanya memengaruhi perilaku anak saat ini, tetapi juga dapat membentuk karakter, kesehatan mental, hingga kualitas kehidupannya di masa mendatang.
Wakil Ketua GOW Kabupaten Sumenep, Nyai Siti Nur Asiyah, menegaskan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak sebelum mereka berinteraksi dengan masyarakat luas.
Menurutnya, berbagai nilai kehidupan, sikap sosial, hingga cara anak memahami kasih sayang pertama kali diperoleh dari lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua dituntut menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang tua, khususnya ibu dan ayah, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, mental, dan masa depan anak-anak kita,” ujar Nyai Siti Nur Asiyah.
Ia mengungkapkan, masih banyak orang tua yang tanpa disadari menerapkan pola asuh kurang tepat. Kondisi tersebut kerap dipengaruhi pengalaman masa kecil, tekanan ekonomi maupun sosial, serta minimnya pemahaman tentang pengasuhan yang sehat.
Menurutnya, pengalaman emosional yang belum terselesaikan pada masa lalu sering kali memengaruhi cara seseorang mendidik anak ketika telah menjadi orang tua. Situasi itu berpotensi menciptakan siklus pola asuh yang kurang sehat dari generasi ke generasi.
Karena itu, konsep healing parenting dinilai menjadi pendekatan yang relevan untuk membantu orang tua memahami diri sendiri sekaligus membangun hubungan yang lebih positif dengan anak.
“Healing parenting bukan berarti menjadi orang tua yang sempurna. Namun bagaimana kita lebih sadar, memahami emosi diri, serta berkomitmen memutus rantai pola asuh yang kurang sehat,” katanya.
GOW Kabupaten Sumenep, lanjut Nyai Siti, berkomitmen mendukung peningkatan kualitas keluarga melalui berbagai kegiatan edukatif yang berfokus pada penguatan peran orang tua dalam proses pengasuhan.
Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab mendidik anak bukan hanya berada di tangan ibu. Keterlibatan ayah dan dukungan seluruh anggota keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak.
Menurutnya, kehadiran orang tua secara emosional menjadi kebutuhan utama anak dalam proses tumbuh kembang. Oleh sebab itu, orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang sehat, memberikan perhatian yang cukup, serta mengedepankan pendekatan yang penuh empati dalam mendidik anak.
“Anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua yang utuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hati dan perhatian. Mari lebih sabar menghadapi anak, lebih mendengar daripada menghakimi, serta lebih memahami daripada memaksa, karena anak membutuhkan teladan yang baik dari orang tuanya,” pungkasnya.
Melalui seminar tersebut, GOW Sumenep berharap semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pola asuh positif sehingga mampu menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, dan mendukung lahirnya generasi berkualitas. (Rose)






