Dari Krisis Anggaran ke Transformasi, Ini Strategi Baru Bupati Pamekasan

Pamekasan, Kamis 9 April 2026 | News Satu- Di tengah tren penurunan dana transfer pusat, Pemerintah Kabupaten Pamekasan mulai mengambil langkah strategis dengan mengandalkan pembiayaan alternatif untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Langkah ini ditegaskan oleh Bupati Kholilurrahman saat melakukan kunjungan kerja bersama jajaran OPD ke Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penguatan Misi ke-3 RPJMD yang berfokus pada rekayasa lingkungan dan mitigasi risiko bencana.

Dalam agenda tersebut, Pamekasan memperkuat keterlibatan dalam program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP). Program nasional ini mendorong reformasi layanan publik melalui inovasi pembiayaan dan tata kelola yang lebih adaptif.

Pamekasan kini masuk dalam 45 besar daerah di Indonesia yang diproyeksikan mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkuler—model yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru.

Menurut Kholilurrahman, kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap tekanan fiskal akibat penurunan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

“Kami harus keluar dari pola lama. Pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada APBD,” tegasnya, Kamis (9/4/2026).

Melalui LSDP, Pemkab membuka akses terhadap pembiayaan eksternal dengan dukungan teknis dari World Bank melalui Kemendagri. Skema ini memungkinkan proyek infrastruktur tetap berjalan tanpa membebani anggaran daerah secara penuh.

Selain pengelolaan sampah, Pemkab juga mengakselerasi program Wefsrid (Water Energy Food Security for Regional Integrated Development) yang difokuskan pada pembangunan irigasi strategis guna memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air.

Sejumlah langkah konkret disiapkan, mulai dari penyediaan lahan TPST, penguatan regulasi, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Integrasi LSDP dan Wefsrid dinilai menjadi strategi jangka panjang untuk menjawab ancaman lingkungan seperti banjir dan pencemaran, sekaligus memperkuat ketahanan daerah.

“Ini bukan sekadar proyek, tapi transformasi cara membangun daerah agar lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutupnya. (Yudi)