Surabaya, Rabu 17 Juni 2026 | News Satu- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan meningkatnya ancaman yang membayangi generasi muda di era digital, mulai dari jeratan pinjaman online (pinjol), perilaku konsumtif, hingga penggunaan gadget yang tidak terkendali.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan. Peringatan itu disampaikan Khofifah saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) 2026 di Hotel Shangri-La Surabaya.
Menurut Khofifah, pembangunan karakter generasi muda merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa. Karena itu, pembentukan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan institusi keagamaan.
“Pembangunan karakter tidak cukup dilakukan di sekolah. Gereja memiliki peran penting dalam membimbing, mengawal, dan menuntun kehidupan anak-anak maupun remaja sejak usia dini,” ujar Khofifah.
Khofifah menyoroti fenomena meningkatnya kasus pinjaman online yang turut menyeret kelompok usia muda. Ia mengungkapkan adanya anak muda yang menjalani perawatan di RS Menur Surabaya dengan salah satu faktor yang dikaitkan dengan persoalan pinjaman online.
Menurutnya, fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena diduga berkaitan dengan pola hidup konsumtif yang semakin berkembang di kalangan remaja.
“Banyak usia muda yang dirawat di RS Menur Surabaya. Salah satunya karena pinjol. Ini perlu dikaji lebih dalam apakah perilaku konsumtif menjadi salah satu faktor yang membuat mereka akhirnya terjerat,” katanya.
Ia menilai persoalan pinjol tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kehidupan sosial generasi muda. Selain pinjaman online, Khofifah juga mengingatkan dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol pada anak-anak dan remaja.
Menurutnya, lemahnya pengawasan terhadap aktivitas digital berpotensi memunculkan berbagai persoalan baru yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis maupun sosial anak.
“Ada anak-anak yang menjadi korban karena proses pengawasan yang kurang optimal, termasuk akibat penggunaan gadget yang melebihi batas waktu yang seharusnya,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai perlu ada sinergi yang lebih kuat antara keluarga, sekolah, dan lembaga keagamaan dalam membangun sistem pengawasan dan pembinaan yang berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Khofifah secara khusus meminta GPdI memperkuat program pembinaan jemaat sejak usia dini, mulai dari balita hingga remaja.
Ia berharap gereja dapat menjadi salah satu benteng moral yang membantu membentuk karakter generasi muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan sosial dan digital yang semakin kompleks.
“Jika memungkinkan, dalam setiap proses penggembalaan jemaat terdapat pembinaan khusus untuk balita dan juga pembinaan khusus bagi remaja,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Khofifah berharap Mukernas GPdI 2026 mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang memberikan manfaat tidak hanya bagi organisasi keagamaan, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan lembaga keagamaan menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Mudah-mudahan Mukernas GPdI 2026 berjalan lancar, produktif, dan menghasilkan dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” pungkasnya. (Kiki)






