ACHMAD FAUZI WONGSOJUDOBUPATI FAUZIHEADLINENEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPEMKAB SUMENEPREGIONALSUMENEP

Aktivis Pusaka, Antara Etika Keris Dan Tugu Keris Sumenep

×

Aktivis Pusaka, Antara Etika Keris Dan Tugu Keris Sumenep

Sebarkan artikel ini
Aktivis Pusaka, Antara Etika Keris Dan Tugu Keris Sumenep
Aktivis Pusaka, Antara Etika Keris Dan Tugu Keris Sumenep

Sedangkan menyerahkan keris kepada orang yang lebih muda atau maaf secara jabatannya lebih rendah, maka tangan kanan memegang warangka pada gandar bagian atas (pangkal gandar), kemudian orang yang menerima akan memegang pada gandar bagian bawah (ujung gandar).

Apabila keris yang diserahterimakan adalah keris istimewa, maka saat keris itu diserahkan kedua tangan kita harus menyambut sambil menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. Demikian pula saat mengembalikan keris tersebut, maka kedua tangan harus memegang keris tersebut untuk diterima Kembali oleh orang yang dihormati tersebut.

Menurutnya, ditakutkan dalam pembangunan tugu keris ini, Bupati Fauzi malah melibatkan orang yang sama sekali bukan dari paguyuban maupun empu atau pengrajin keris. Sehingga, lupa atau tidak tahu etika dalam dunia pekerisan.

“Takutnya orang yang dijadikan konsultan dalam pembangunan tugu keris ini, buka dari bagian paguyuban maupun dari empu atau pengrajin keris. Sehingga, menimbulkan kontroversi dalam pembangunannya,” katanya.

Ia menambahkan, pantangan dalam Pergaulan Perkerisan. Saat melihat bilah keris milik orang lain, tabu untuk menilai kualitas keris tersebut kecuali diminta oleh pemiliknya. Mengomentari secara negative atau mencela keris milik orang lain adalah hal yang dipantangkan dalam pergaulan perkerisan.

Untuk itu, semua pihak harus dapat menahan diri ketika melihat dan mengamati bilah keris milik orang lain, ketika dalam suatu pertemuan sarasehan atau diskusi perkerisan. Namun untuk pertemuan khusus yang bertujuan untuk memberikan edukasi, penilaian terhadap keris dapat dilakukan oleh orang yang lebih paham kepada orang yang masih belum paham secara teknis.

“Disini sudah jelas, orang yang bisa memberikan edukasi adalah orang sudah ahli, jadi saya sarankan ke Bupati Sumenep, sebaiknya menggunakan orang yang ahli dalam dunia pekerisan dalam pembangunan tugu keris. Yang ditakutkan, orang yang diajak rembuk itu, hanya orang yang pandai beretorika belaka, dan tidak memiliki keahlian dalam dunia keris,” ketusnya.

Oleh karena itu, agar kontroversi pembangunan tugu keris ini tidak terus berkelanjutan. Sebaiknya, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, segera mengundang para empu atau pengrajin dan paguyuban keris yang ada di Kabupaten Sumenep.

“Sebaiknya buang ego masing-masing, dan kembali berembuk dengan para empu atau pengrajin keris serta paguyuban. Sehingga, tidak lagi terjadi kontroversi, dan niat menghargai para empu atau pengrajin keris di Sumenep benar-benar terwujud. Namun, jika tidak membuang ego masing-masing, maka akan menjadi sebaliknya, awalnya ingin menghargai, malah dinilai melecehkan,” pungkasnya. (Robet)

Comment