JAKARTA, Rabu, 14 Oktober 2026 | News Satu – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Indonesia meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Rupiah dibuka turun 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.918 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.900 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar masih mencermati pergerakan harga energi global serta menunggu data inflasi AS yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga. Perkembangan tersebut menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah. Menurut dia, mata uang Indonesia berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah secara terbatas.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” kata Lukman di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Tekanan terhadap rupiah berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November tercatat naik 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember menguat 1,84 persen ke level 106,65 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi perhitungan biaya energi dan kebutuhan valuta asing. Namun, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan harga minyak, melainkan juga dipengaruhi arah dolar AS, kebijakan moneter, dan sentimen investor terhadap perekonomian global.
Pelaku pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Data tersebut berpotensi mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter AS dan memengaruhi pergerakan dolar di pasar global.
Jika ekspektasi suku bunga AS berubah, arus modal dan permintaan terhadap dolar dapat ikut terpengaruh. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati dalam menentukan arah pergerakan rupiah.
“Saya memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS,” ujarnya.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai, meskipun pelemahan pada pembukaan perdagangan tergolong terbatas.
“Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada dinamika harga energi, arah penguatan atau pelemahan dolar AS, serta respons investor terhadap perkembangan ekonomi global,” tandasnya.
Kenaikan harga minyak dan penantian data inflasi AS membuat pelaku pasar perlu mencermati sejumlah indikator secara bersamaan. Perubahan sentimen global dapat memengaruhi volatilitas nilai tukar, sehingga perkembangan perdagangan berikutnya menjadi perhatian pasar keuangan domestik.
Dengan posisi pembukaan di Rp17.918 per dolar AS, rupiah masih berada dalam rentang proyeksi analis, yakni Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan terbaru dari pasar energi dan data ekonomi AS untuk membaca arah pergerakan mata uang Indonesia.







