Wakil Bupati Sumenep, HDDAP Jadi Senjata Hadapi Lahan Kering

Sumenep, Selasa 21 April 2026| News Satu- Pemerintah Kabupaten Sumenep mempercepat transformasi sektor pertanian dengan mengandalkan Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) sebagai strategi utama menghadapi tantangan lahan kering.

Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim menegaskan, HDDAP menjadi instrumen penting untuk mendorong perubahan sistem pertanian dari pola konvensional menuju modern, produktif, dan berorientasi pasar.

“HDDAP memiliki peran strategis dalam mengembangkan hortikultura yang adaptif terhadap kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Program ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi tepat guna, hingga pengembangan rantai nilai produk hortikultura.

Sumenep termasuk dalam 13 kabupaten di Indonesia yang menjadi lokasi implementasi program ini. Tiga komoditas utama menjadi fokus, yakni pisang, bawang merah, dan cabai.

Pengembangan komoditas tersebut tersebar di lima kecamatan. Batuputih difokuskan untuk pisang, Ambunten dan Rubaru untuk cabai, sementara Guluk-Guluk serta Pasongsongan menjadi sentra bawang merah.

Data menunjukkan, komoditas pisang dikembangkan dalam dua klaster seluas 32,53 hektare di Batuputih. Sementara bawang merah terbagi dalam 11 klaster dengan total luas lebih dari 100 hektare. Adapun cabai tersebar dalam 18 klaster dengan luas mencapai lebih dari 175 hektare.

Pemkab Sumenep menargetkan transformasi besar di sektor pertanian, tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan sistem yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.

“Kami ingin petani beralih ke pertanian modern yang produktif dan mampu menjawab kebutuhan pasar,” tegasnya.

Selain itu, keberhasilan HDDAP juga bergantung pada sinergi lintas sektor agar program tidak berjalan parsial dan benar-benar menyentuh kebutuhan petani.

“Program ini harus menjadi ruang kolaborasi yang efektif, dengan petani sebagai subjek utama pembangunan pertanian,” pungkasnya. (Rose)