Demokrasi Diuji Disinformasi, Lia Istifhama Tekankan Politik Berintegritas

Surabaya, Kamis 23 April 2026| News Satu- Tekanan terhadap kualitas demokrasi Indonesia kian nyata. Penurunan kepercayaan publik, masifnya disinformasi, hingga meningkatnya apatisme generasi muda menjadi tantangan serius yang berpotensi melemahkan sistem demokrasi.

Dalam situasi tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa keteladanan figur publik dan praktik politik berintegritas menjadi kunci utama menjaga demokrasi tetap sehat dan berkelanjutan.

“Demokrasi tidak cukup dijaga lewat sistem. Integritas, keteladanan, dan kepercayaan publik adalah fondasi utamanya,” ujarnya, Kamis (26/4/2026).

Lia menekankan bahwa peran aktor demokrasi—mulai dari politisi, media, hingga masyarakat—tidak bisa dipisahkan. Ia secara khusus menyoroti pentingnya media sebagai penjaga keseimbangan informasi, sehingga objektivitas pemberitaan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas demokrasi.

Di sisi lain, Ning Lia mengingatkan bahaya apatisme politik di kalangan generasi muda. Menurutnya, rendahnya partisipasi dapat berdampak langsung pada kualitas demokrasi di masa depan.

“Anak muda harus terlibat. Demokrasi adalah tanggung jawab bersama. Politisi wajib memberi teladan, menghormati publik, dan menyampaikan informasi yang objektif agar bisa menjadi rujukan,” tegasnya.

Dalam praktik politiknya, Lia dikenal mengedepankan pendekatan inklusif dan dialogis. Ia aktif membangun komunikasi lintas kelompok—mulai dari pesantren, perempuan, pemuda, hingga komunitas akar rumput—guna memperluas partisipasi publik dan memperkuat representasi aspirasi masyarakat.

Kepercayaan publik terhadap Lia tercermin dari capaian elektoralnya pada Pemilu terakhir dengan raihan 2.739.123 suara. Selain itu, survei Accurate Research and Consulting Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan publik mencapai 70,5 persen, tertinggi di antara legislator Jawa Timur.

Latar belakang keluarga Nahdlatul Ulama turut membentuk karakter kepemimpinan Lia yang religius dan membumi. Ia merupakan putri KH. Masykur Hasyim dan Hj. Aisyah. Selain aktif di parlemen, Lia juga berkontribusi dalam memperkuat literasi publik melalui tulisan-tulisan bertema politik, pendidikan, dan kepemimpinan perempuan. Upaya ini dinilai sebagai bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga demokrasi yang sehat. (Kiki)