SURABAYA, Jumat, 30 Oktober 2026 | News Satu – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan kesempatan berkarier di dunia politik dan menduduki jabatan publik harus terbuka bagi generasi muda berdasarkan kapasitas, kompetensi, prestasi, dan integritas. Kekayaan, kedekatan politik, maupun latar belakang keluarga, menurut dia, tidak semestinya menjadi penentu utama seseorang memperoleh posisi di lembaga legislatif.
Pesan tersebut disampaikan Lia saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sekolah Legislator bertema “Legislatif Muda: Membangun Generasi Kritis, Aspiratif, Berintegritas” bersama mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Dalam forum tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia itu mendorong mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan kepemimpinan dan demokrasi. Menurut dia, generasi muda, termasuk Gen Z dan Generasi Alpha, tidak cukup hanya menguasai pengetahuan atau piawai menyampaikan gagasan. Mereka juga perlu mampu membaca persoalan, menawarkan solusi, serta memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Lia menjelaskan, meritokrasi menempatkan kemampuan dan kualitas individu sebagai dasar pemberian kesempatan maupun kepercayaan. Prinsip tersebut, kata dia, perlu menjadi landasan dalam membuka ruang partisipasi politik yang lebih setara.
“Gagasan meritokrasi yang menempatkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai dasar seseorang memperoleh posisi atau kepercayaan. Dengan prinsip ini, kesempatan berkiprah di dunia legislatif tidak semestinya hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan, kedekatan politik, atau latar belakang tertentu,” kata Lia.
Ia juga memandang politik sebagai ruang kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat, bukan semata-mata perebutan jabatan. Untuk menjelaskan prinsip tersebut, Lia memperkenalkan konsep politik sebagai SENI, singkatan dari Strategy, Equity, Nation, dan Integrity.
Dalam konsep itu, Strategy menekankan kemampuan menyusun langkah dan membaca persoalan. Equity berkaitan dengan keadilan dalam kebijakan, Nation menempatkan kepentingan bangsa sebagai orientasi, sedangkan Integrity menjadi landasan moral dalam menjalankan amanah publik.
“Politik tidak cukup dipahami sebagai perebutan jabatan atau kekuasaan. Politik harus menjadi sarana untuk merumuskan kebijakan yang adil, memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan bangsa,” ujarnya.
Lia menambahkan, calon legislator muda perlu membuktikan kapasitas melalui kerja nyata, pemahaman terhadap persoalan publik, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan. Integritas menjadi unsur mendasar karena jabatan publik berkaitan dengan kepentingan masyarakat serta pengelolaan sumber daya negara.
Ia juga mendorong mahasiswa membangun kesadaran kritis dalam kehidupan politik. Kemampuan menganalisis persoalan, mengevaluasi kebijakan, memeriksa kebenaran informasi, dan menyusun argumentasi berdasarkan fakta dinilai penting bagi calon pemimpin.
“Anak muda yang ingin menjadi legislator harus mampu membuktikan bahwa pengetahuan dan kemampuan berbicara mereka disertai empati sosial serta keberanian memperjuangkan kepentingan publik,” katanya.
Selain kapasitas dan integritas, Lia menekankan pentingnya karakter negarawan atau statesman. Menurut dia, pemimpin harus mampu melihat dampak kebijakan dalam jangka panjang, bukan hanya mempertimbangkan kepentingan politik sesaat.
Prinsip think about our country and think about next generation, kata Lia, menjadi pengingat bahwa keputusan publik perlu memperhitungkan masa depan bangsa dan generasi berikutnya.
Ia menilai perubahan lingkungan sosial, ekonomi, dan teknologi turut membentuk tantangan demokrasi ke depan. Karena itu, generasi muda perlu memperkuat literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.
Penguatan kapasitas tersebut, lanjut Lia, perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter melalui pendidikan, pengalaman organisasi, lingkungan keluarga, dan partisipasi sosial.
Wakil Rektor III Untag Surabaya, Dr. Sumiati, M.M., mengapresiasi kehadiran para legislator sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Menurut dia, pengalaman para wakil rakyat dapat memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai dinamika politik, proses memperoleh kepercayaan masyarakat, dan tanggung jawab setelah terpilih.
Sumiati mencontohkan perjalanan Lia Istifhama yang terpilih sebagai salah satu anggota DPD RI dari Jawa Timur pada Pemilu 2024. Setelah terpilih, Lia dinilai aktif menyapa konstituen di berbagai daerah.
“Seperti Ning Lia, bagaimana bisa menjadi salah satu dari empat senator terpilih dari 14 calon yang bertarung pada Pemilu 2024. Setelah terpilih, Ning Lia berkeliling menyapa konstituennya. Itu tentu memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, kesempatan ini sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para legislator hebat seperti Ning Lia,” kata Sumiati.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Dekan FISIP Untag Surabaya Insan Romadhon, dosen Wahyu Kuncoro, Samsol Arif Marla dari unsur advokasi DPRD Kabupaten Bangkalan, serta Muhammad Syaifuddin dari unsur legislasi DPRD Kota Surabaya.
Hadir pula Ketua Umum Awaludin Kahar dan Ketua Pelaksana Triana Marta Sisilia bersama mahasiswa Untag Surabaya.
Awaludin Kahar menyampaikan apresiasi kepada Lia yang bersedia berbagi pengalaman dan pengetahuan politik kepada mahasiswa. Ia menilai kehadiran senator tersebut menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari kepemimpinan dan komunikasi dengan masyarakat.
“Ning Lia merupakan politisi yang dekat dengan Gen Z. Bahkan, beberapa waktu lalu, beliau dinobatkan sebagai politisi humanis. Kehadiran beliau menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung tentang politik, kepemimpinan, dan bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat,” ujarnya.
Melalui Sekolah Legislator, mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan mengenai peran lembaga legislatif sekaligus memahami bahwa keterlibatan dalam politik membutuhkan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik.







