China Dan UEA Masuk, Industri Garam Sampang Berpotensi Naik Kelas

Jakarta, Minggu 27 September 2026 | News Satu- Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mulai dilirik investor global untuk pengembangan industri garam modern berskala besar. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kini turun langsung memfasilitasi proyek strategis tersebut yang digadang-gadang menjadi salah satu motor percepatan swasembada garam nasional.

Ketertarikan investor internasional datang dari dua negara, yakni Tiongkok dan Uni Emirat Arab (UEA), yang saat ini tengah menjajaki peluang investasi di sektor pengolahan garam modern di kawasan pesisir Madura tersebut.

Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, mengatakan masuknya investor asing menjadi momentum penting untuk memperkuat industri garam nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan petambak lokal.

“Kehadiran investor ini tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat dan petambak lokal, tetapi juga menjadi katalisator penting untuk mempercepat program swasembada garam nasional,” kata Abraham Mose, Minggu (27/9/2026).

Masuknya minat investasi dari dua negara tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor garam Indonesia mulai mendapat perhatian pasar global, terutama di tengah upaya pemerintah mempercepat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor garam industri.

Sampang dinilai memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya kandidat utama pengembangan kawasan industri garam modern. Selain dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam nasional, daerah ini juga memiliki kawasan tambak garam yang luas dengan total area mencapai sekitar 1.300 hektare.

Lahan tersebut dinilai cukup memadai untuk menopang pembangunan fasilitas pengolahan garam skala industri yang terintegrasi dengan aktivitas produksi petambak lokal. Berbeda dengan pola produksi konvensional, proyek yang sedang disiapkan ini akan mengadopsi teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR), sebuah sistem modern yang memanfaatkan daur ulang energi termal untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Menurut Abraham, teknologi tersebut mampu mengurangi penggunaan uap tradisional hingga 90 persen serta mengandalkan elektrifikasi kompresor untuk menekan emisi karbon secara signifikan.

Dengan pendekatan tersebut, industri garam yang akan dibangun tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mendukung agenda industri hijau dan transisi menuju proses manufaktur yang lebih ramah lingkungan.

“Teknologi modern ini menawarkan sejumlah keunggulan signifikan, seperti mampu memangkas penggunaan uap tradisional hingga 90 persen dan mengandalkan elektrifikasi kompresor untuk menekan emisi karbon secara drastis tanpa pembakaran fosil berkelanjutan,” jelasnya.

Saat ini, PT Garam bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM tengah menyelesaikan tahapan awal proyek, termasuk penyusunan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study) dan studi kelayakan (feasibility study).

Selain itu, koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sampang juga terus dilakukan guna memastikan kesiapan kawasan industri, termasuk kemungkinan penambahan lahan apabila kebutuhan proyek berkembang lebih besar dari perencanaan awal.

Proses persiapan hingga penetapan mitra strategis proyek diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu tahun sebelum memasuki tahap implementasi.

Jika terealisasi, proyek ini berpotensi menjadi salah satu investasi hilirisasi garam terbesar di Jawa Timur sekaligus memperkuat posisi Sampang sebagai pusat industri garam modern nasional yang mampu mendukung kebutuhan industri dalam negeri dan mempercepat target swasembada garam Indonesia. (Ahmad)