Stok Beras Melimpah, Pemerintah Siapkan Strategi Jaga Harga Antarwilayah

Jakarta, Jumat 10 Juli 2026 | News Satu- Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus 5,19 juta ton hingga awal Juli 2026, melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar 4 juta ton.

Besarnya stok beras pemerintah kini menghadirkan tantangan berikutnya. Cadangan tersebut perlu dikelola dan disalurkan secara optimal agar tidak hanya tersimpan sebagai stok, tetapi mampu menjaga stabilitas harga beras, memperkuat bantuan pangan, serta memberikan dampak terhadap pendapatan petani.

Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas Teni Widuriyanti mengatakan realisasi pengelolaan CBP per 6 Juli 2026 telah mencapai 129 persen dari target.

“Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah per tanggal 6 Juli 2026 telah mencapai 5,19 juta ton atau 129 persen dari target 4 juta ton,” kata Teni, Jumat (10/7/2026).

Capaian tersebut menunjukkan posisi cadangan beras pemerintah relatif kuat pada semester pertama 2026. Jika dibandingkan dengan target 4 juta ton, realisasi pengelolaan CBP telah melampaui sasaran sebesar 1,19 juta ton.

“Capaian tersebut menjadi salah satu indikator pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam memperkuat cadangan pangan nasional,” tandasnya.

Menurut Teni, pengelolaan CBP merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026–2029.

Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, Bappenas bertugas memastikan pengadaan dan pengelolaan gabah maupun beras dalam negeri hingga penyaluran cadangan beras berjalan selaras dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

“Penugasan itu telah diintegrasikan ke dalam RKP 2025 dan RKP 2026 melalui Program Prioritas Swasembada Pangan, khususnya pada kegiatan prioritas pengelolaan cadangan pangan,” ujarnya.

Bappenas menilai capaian yang melampaui target menunjukkan cadangan beras pemerintah berada dalam posisi relatif kuat.

“Sebagai perbandingan, pada 2025 pengelolaan CBP mencapai 5,01 juta ton. Jumlah tersebut setara 167 persen dari target pemerintah saat itu yang ditetapkan sebesar 3 juta ton,” jelasnya.

Secara volume, pengelolaan cadangan beras hingga 6 Juli 2026 lebih tinggi sekitar 180 ribu ton dibandingkan capaian sepanjang 2025 berdasarkan data yang disampaikan Bappenas.

Namun, besarnya cadangan beras juga membutuhkan strategi pengelolaan yang tepat agar kualitas stok tetap terjaga dan penyalurannya dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat serta produsen pangan.

Bappenas merekomendasikan optimalisasi pemanfaatan CBP sebagai salah satu strategi meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga stabilitas harga beras.

“Pengelolaan stok diharapkan dapat membantu pemerintah meredam gejolak harga antarwaktu maupun disparitas harga antarwilayah,” lanjutnya.

Cadangan beras dapat digunakan untuk memperkuat pasokan ketika terjadi kekurangan di suatu daerah atau saat harga mengalami tekanan.

Pada sisi produsen, kebijakan pengadaan beras dalam negeri juga diharapkan memberikan kepastian pasar bagi hasil produksi petani.

Tantangan pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen memperoleh harga beras yang terjangkau dan kepentingan petani mendapatkan harga jual yang layak.

“Karena itu, pengelolaan CBP dinilai tidak dapat hanya berfokus pada besarnya stok,” katanya.

Kecepatan perputaran cadangan, kualitas beras, ketepatan waktu penyaluran, serta sasaran distribusi menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas kebijakan pangan. Cadangan beras pemerintah juga diharapkan semakin memperkuat pelaksanaan program bantuan pangan.

Bappenas mendorong distribusi beras kepada masyarakat dilakukan secara lebih tepat sasaran sehingga stok pemerintah dapat memberikan dampak langsung terhadap kelompok penerima yang membutuhkan.

Pemanfaatan CBP untuk bantuan pangan juga dapat menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat ketika terjadi tekanan harga pangan.

Ketepatan data penerima, efektivitas distribusi, dan pengawasan penyaluran menjadi faktor penting agar program tersebut berjalan sesuai tujuan. Strategi lain yang direkomendasikan Bappenas adalah memperluas keterlibatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam penyaluran beras.

Pelibatan jaringan koperasi di tingkat desa dan kelurahan diharapkan dapat memperkuat rantai distribusi pangan sekaligus mendekatkan akses beras kepada masyarakat.

Bappenas juga mendorong perluasan penerapan sistem resi gudang. Instrumen tersebut dapat digunakan dalam pengelolaan stok sekaligus mendukung pembiayaan komoditas pangan.

“Pengembangan sistem penyimpanan dan pembiayaan yang lebih efektif dinilai penting untuk membangun tata kelola cadangan pangan yang mampu merespons perubahan produksi, permintaan, dan harga,” tegasnya.

Pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memastikan besarnya cadangan beras dapat memberikan manfaat optimal bagi stabilitas pangan nasional. Karena itu, Bappenas akan menyusun konsep dan strategi pengelolaan cadangan pangan yang lebih dinamis.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan pemerintah dalam menghadapi perubahan kondisi produksi pangan, gangguan distribusi, fluktuasi harga, maupun kebutuhan bantuan pangan.

Capaian CBP sebesar 5,19 juta ton memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk melakukan intervensi apabila terjadi gejolak pasokan dan harga.

“Namun, keberhasilan kebijakan cadangan pangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah beras yang dikuasai pemerintah,” pungkasnya.

Ketepatan pengadaan, kualitas penyimpanan, efektivitas distribusi, perlindungan terhadap pendapatan petani, stabilitas harga bagi konsumen, serta akurasi penyaluran bantuan pangan akan menjadi indikator penting dalam pengelolaan stok beras nasional.

Dengan realisasi yang telah mencapai 129 persen dari target, fokus pemerintah berikutnya adalah memastikan cadangan beras tersebut dapat dikelola secara efektif untuk memperkuat swasembada dan ketahanan pangan nasional. (Den)