Rupiah Tembus Rp18.176 per Dolar AS, DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Darurat

Jakarta, Selasa 9 Juni 2026 | News Satu- Tekanan hebat yang menghantam pasar keuangan Indonesia memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak ekonomi ke sektor riil. Di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya nilai tukar rupiah ke level terendah dalam beberapa waktu terakhir, DPR RI mendesak pemerintah dan otoritas moneter segera mengambil langkah darurat untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Jafar, menilai gejolak yang terjadi bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan sinyal serius yang harus segera direspons dengan kebijakan konkret dan terukur. Menurutnya, kombinasi pelemahan rupiah dan kejatuhan IHSG menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan nasional.

“Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG merupakan sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap biasa. Pemerintah harus segera melakukan intervensi yang tepat agar kondisi ini tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih besar,” ujar Marwan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Data perdagangan menunjukkan tekanan pasar terjadi secara signifikan pada awal pekan. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG tercatat merosot sekitar 4 persen atau turun 246 poin hingga berada di level 5.349.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan tajam hingga menembus Rp18.176 per dolar AS. Marwan menilai kejatuhan pasar saham dipicu meningkatnya kepanikan investor yang berujung pada aksi jual besar-besaran. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, risiko keluarnya modal asing atau capital outflow dinilai semakin besar dan berpotensi memperparah tekanan terhadap rupiah.

Ia menegaskan bahwa faktor psikologis pasar saat ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap arah pergerakan ekonomi nasional. Menurutnya, pelaku pasar membutuhkan kepastian kebijakan dan strategi mitigasi yang jelas dari pemerintah untuk mengembalikan optimisme investor.

“Kepercayaan pasar menjadi faktor utama. Ketika investor melihat pemerintah memiliki langkah yang jelas dan terukur, tekanan terhadap pasar dapat diredam. Namun jika ketidakpastian terus berlangsung, risiko pelemahan akan semakin besar,” katanya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga mengingatkan bahwa gejolak di pasar keuangan tidak hanya berdampak pada investor atau pelaku pasar modal semata.

Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku industri, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan memperbesar tekanan inflasi di tingkat masyarakat.

Menurut Marwan, kondisi tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi daya beli masyarakat apabila tidak segera diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.

“Semakin cepat kepercayaan pasar dipulihkan, semakin besar peluang kita melindungi masyarakat dari dampak ekonomi yang lebih luas. Pemerintah harus hadir dengan langkah yang meyakinkan dan mampu memberikan kepastian kepada pasar,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan seluruh pemangku kepentingan ekonomi untuk memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Marwan menilai respons cepat dan komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk meredam kepanikan serta mengembalikan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Di tengah meningkatnya tekanan global dan dinamika pasar yang belum stabil, langkah pemerintah dalam beberapa hari ke depan dinilai akan menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar sekaligus menjaga kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat. (Den)