Sumenep, Kamis 1 Oktober 2026 | News Satu- Pengamat Kebijakan Publik Fauzi AS mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai teknologi pendukung transformasi digital. Menurutnya, AI kini telah berkembang menjadi instrumen strategis yang dapat menentukan posisi dan daya saing suatu negara di tingkat global.
Fauzi menilai peta kekuatan dunia sedang mengalami perubahan besar. Jika pada masa lalu kekuatan negara diukur dari jumlah pasukan militer, persenjataan, cadangan emas, hingga luas wilayah, kini penguasaan data, algoritma, chip semikonduktor, dan kapasitas komputasi menjadi faktor yang semakin menentukan.
“Negara yang menguasai data, algoritma, chip, dan kekuatan komputasi akan memiliki posisi lebih kuat dalam persaingan global di era AI,” ujar Fauzi, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, ancaman terhadap kedaulatan negara saat ini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk invasi militer atau ekspansi wilayah. Dominasi dapat muncul melalui ketergantungan terhadap platform digital, teknologi asing, hingga penguasaan data masyarakat oleh pihak luar.
Fauzi menjelaskan bahwa data telah menjadi aset paling berharga dalam ekonomi digital modern. Data tidak lagi sekadar berisi identitas pengguna, tetapi juga merekam pola konsumsi, perilaku, preferensi, kebiasaan, hingga kecenderungan masyarakat dalam mengambil keputusan.
“Di era AI, data merupakan bahan bakar utama yang menentukan kualitas dan kemampuan teknologi berkembang,” katanya.
Ia juga menyoroti perkembangan AI yang kini mengarah pada konsep agentic AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga menjalankan tugas secara mandiri berdasarkan target yang diberikan.
“Perkembangan tersebut harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang ketat. Audit berkala, pembatasan akses, pengawasan manusia, hingga mekanisme penghentian darurat menjadi elemen penting untuk memastikan AI tetap berada dalam kendali manusia,” tandasnya.
Selain menyoroti perkembangan global, Fauzi mengungkapkan adanya teknologi AI karya anak bangsa yang disebut telah dikembangkan selama sekitar delapan tahun dengan fondasi mesin pencari yang telah dibangun lebih dari satu dekade.
Ia meminta pemerintah tidak terburu-buru memberikan penilaian maupun dukungan sebelum teknologi tersebut melalui proses pengujian yang objektif dan transparan.
“Teknologi lokal harus diuji dengan standar yang sama seperti teknologi asing. Yang dibutuhkan bukan pujian, melainkan pembuktian,” tegasnya.
Menurut Fauzi, pengujian harus mencakup keamanan data, kemampuan pencarian, interoperabilitas, skalabilitas, performa sistem, hingga ketahanan terhadap ancaman siber. Hasil pengujian tersebut dinilai jauh lebih penting dibandingkan sekadar promosi atau klaim keunggulan teknologi.
“Saya mendorong Indonesia untuk mulai serius membangun konsep Sovereign AI atau kedaulatan AI. Konsep tersebut menekankan kemampuan negara dalam mengendalikan data strategis, infrastruktur komputasi, serta pengembangan model kecerdasan buatan secara mandiri,” tukasnya.
Meski demikian, Fauzi menegaskan bahwa kedaulatan AI bukan berarti menolak kerja sama internasional. Indonesia tetap perlu memanfaatkan teknologi terbaik dunia dan menjalin kolaborasi global, namun tanpa kehilangan kendali terhadap aset digital strategis nasional.
Fauzi menilai Indonesia memiliki modal besar karena didukung jumlah penduduk, pengguna internet, dan aktivitas digital yang sangat besar. Namun potensi tersebut tidak akan memberikan keuntungan maksimal, apabila kemampuan nasional dalam menguasai teknologi masih tertinggal.
“Saya mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan talenta digital, memperkuat kapasitas komputasi nasional, melindungi data strategis, meningkatkan riset AI, serta membangun laboratorium keamanan kecerdasan buatan,” lanjutnya.
Fauzi Menambahkan, langkah tersebut harus segera dilakukan mengingat laju perkembangan teknologi jauh lebih cepat dibandingkan proses regulasi dan birokrasi. Fauzi juga menegaskan bahwa penguasaan data, algoritma, komputasi, dan infrastruktur digital akan menjadi faktor utama yang menentukan masa depan bangsa di era kecerdasan buatan.
“Transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan kemandirian teknologi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam ekosistem AI global,” pungkasnya. (Robet)






