Potensi Energi 35 GW Jadi Modal Besar Indonesia Kuasai Industri Digital

Jakarta, Minggu 27 September 2026 | News Satu- Pemerintah Indonesia mulai agresif memburu investasi pusat data (data center) global dengan mengandalkan kekuatan energi hijau yang dimiliki Tanah Air. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahkan menawarkan potensi listrik raksasa dari Papua dan Kalimantan sebagai daya tarik utama bagi investor teknologi dunia.

Langkah ini dilakukan di tengah lonjakan kebutuhan energi industri digital global yang terus meningkat seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), hingga layanan digital berbasis data yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Saat membuka Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Bahlil menegaskan Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditandingi banyak negara, yakni cadangan energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah dan tersebar di berbagai wilayah.

Menurutnya, sejumlah negara mulai menghadapi tekanan pasokan energi untuk menopang pertumbuhan industri digital, termasuk kebutuhan energi hijau yang kini menjadi syarat utama pembangunan data center modern.

“Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center sekarang tumbuh sangat cepat. Karena itu investor tidak perlu ragu membangun data center di Indonesia,” kata Bahlil di hadapan ribuan delegasi, investor, pelaku usaha, dan akademisi dari berbagai negara.

Dalam paparannya, Bahlil secara khusus menyoroti potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Mamberamo di Papua yang diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga sekitar 23 gigawatt (GW). Selain itu, Sungai Kayan di Kalimantan juga memiliki potensi energi sekitar 12 GW.

Angka tersebut dinilai cukup untuk menjadi tulang punggung pasokan listrik hijau bagi kawasan industri digital berskala besar yang membutuhkan energi stabil dalam jangka panjang.

“Kalau ada yang ingin memanfaatkan energi air, Papua memiliki potensi Mamberamo sekitar 23 gigawatt. Di Kalimantan ada Kayan sekitar 12 gigawatt. Potensinya sangat besar,” ujarnya, Minggu (27/9/2026).

Persaingan memperebutkan investasi data center kini tidak lagi hanya bergantung pada infrastruktur digital, tetapi juga pada ketersediaan energi bersih. Banyak perusahaan teknologi global mulai mensyaratkan penggunaan energi rendah emisi untuk mendukung target keberlanjutan mereka.

Menjawab tantangan tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan sektor energi hijau melalui berbagai program strategis nasional.

Salah satunya melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen berasal dari energi baru terbarukan.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 100 GW yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun ke depan.

“Ini bukan sekadar tema atau wacana. Semua sudah diterjemahkan menjadi program konkret,” tegas Bahlil.

Selain menawarkan energi melimpah, pemerintah juga mengandalkan stabilitas ekonomi nasional sebagai modal menarik investasi baru.

Bahlil menyebut perekonomian Indonesia pada kuartal kedua tahun ini tetap tumbuh di atas 5 persen dengan tingkat inflasi yang terjaga sekitar 3 persen, meski dunia masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.

Dengan jumlah penduduk mendekati 300 juta jiwa, Indonesia dinilai memiliki pasar digital yang sangat besar dan terus berkembang. Kondisi tersebut menjadi kombinasi kuat antara ketersediaan energi, pasar domestik, serta peluang investasi jangka panjang.

Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan energi terbarukan dan pembangunan data center berjalan beriringan guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transformasi digital Indonesia.

Di akhir sambutannya, Bahlil kembali menantang investor global untuk mengambil peluang investasi yang dinilainya sedang berada pada momentum terbaik.

“Kalau mau investasi, ini momennya sekarang. Ini timing yang pas. Sekarang bukan lagi soal sumber daya alamnya, tetapi apakah serius atau tidak untuk berinvestasi di Indonesia,” tegasnya.

Electricity Connect 2026 mengusung tema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience” dan menjadi forum strategis untuk memperkuat keandalan, keterjangkauan, serta keberlanjutan sistem kelistrikan nasional di tengah percepatan industrialisasi, hilirisasi, dan transformasi digital. (Den)