Situbondo Catat Pertumbuhan Ekonomi 5,50 Persen Meski Sempat Dihantam Banjir

Situbondo, Rabu 24 Juni Juni 2026 | News Satu- Perekonomian Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menunjukkan kinerja positif pada triwulan I tahun 2026. Di tengah hantaman banjir bandang yang sempat merendam ratusan hektare lahan pertanian pada awal tahun, pertumbuhan ekonomi daerah ini tetap melaju hingga mencapai 5,50 persen.

Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Situbondo yang mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah dengan kontribusi terbesar mencapai 28,45 persen terhadap struktur ekonomi.

Kepala BPS Situbondo, Ribut Hadi Candra, mengatakan ketahanan sektor pertanian menjadi faktor utama yang menjaga laju pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur positif meski Situbondo menghadapi tantangan cuaca ekstrem pada awal tahun.

“Pertumbuhan ekonomi Situbondo pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,50 persen. Dari sisi produksi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi kontributor terbesar,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Selain ditopang sektor pertanian, aktivitas industri pengolahan juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 22,37 persen, disusul sektor perdagangan yang menyumbang 16,13 persen terhadap aktivitas ekonomi daerah.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi mencapai 73,84 persen. Tingginya belanja masyarakat dinilai mampu menjaga perputaran ekonomi dan mendukung aktivitas usaha di berbagai sektor.

“Kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 73,84 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Situbondo,” kata Ribut.

Meski demikian, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. BPS mencatat sektor konstruksi mengalami perlambatan hingga 6,09 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Menurut Ribut, perlambatan tersebut dipengaruhi belum optimalnya pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan yang umumnya masih berada pada tahap persiapan di awal tahun anggaran.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Situbondo dinilai berhasil menjaga produktivitas sektor pertanian. Padahal pada Januari hingga Februari 2026, wilayah ini sempat dilanda banjir bandang yang menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian terendam.

“Situbondo mampu mempertahankan produktivitas padi meskipun pada awal tahun terjadi banjir yang merendam ratusan hektare lahan pertanian,” tandasnya.

Ke depan, BPS menilai pertumbuhan ekonomi daerah perlu diperkuat melalui pengembangan hilirisasi sektor pertanian dan perikanan agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Menurut Ribut, pengolahan hasil pertanian dan perikanan menjadi produk siap jual dapat menjadi strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika sektor primer mengalami tekanan.

Sebagai contoh, hasil tangkapan ikan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi seperti ikan kering atau produk olahan lainnya.

“Ketika sektor perikanan mengalami kontraksi, industri pengolahan dan perdagangan masih bisa bergerak sehingga ekonomi tetap tumbuh,” tegasnya.

Dengan struktur ekonomi yang masih didominasi sektor pertanian dan tingginya konsumsi rumah tangga, Situbondo dinilai memiliki peluang besar untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026, terutama jika penguatan hilirisasi dan investasi sektor produktif terus didorong. (Imam)